Saya termasuk yang ingin peduli pada kebersihan itu, setidaknya di lingkungan rumah. Tidak boleh ada sampah terlihat. Semua harus masuk tempat sampah. Jika di jalanan ada bungkus permen atau snack, otomatis langsung saya ambil dan dimasukkan ke dalam tempat sampah terdekat.
Di lingkungan kami, ada satu sosok yang membuat saya amat kagum. Mbah Har, panggilannya, seorang nenek yang sangat peduli kebersihan. Tanpa ada yang menyuruh. Rumahnya bersih, juga jalanan di depan rumahnya.
Suatu malam, dua ekor kucing berkelahi di atas atap rumah saya. Mereka berlarian dan menabrak pot bunga sampai hancur dan berserakan sampai ke jalanan. Saya sempat keluar untuk mengambil pecahan-pecahan pot agar tidak melukai orang lewat, tapi masih membiarkan tanah berserakan mengotori jalanan. Saya pikir, besok pagi saja dibersihkan karena di luar gelap.
Esok harinya, begitu melongok ke halaman depan, ternyata jalanan sudah bersih tuntas. Tidak ada lagi tanda-tanda bekas pot bunga yang porak-poranda akibat perkelahian kucing. Pikiran ini langsung tertuju pada Mbah Har, tetangga depan rumah itu. Tiap pagi ia memang tak pernah absen untuk membersihkan jalanan di depan rumahnya, tidak peduli milik siapa.
Suatu kali, kami ke mal untuk mencari baju yang diinginkan Mas Bayu, suami saya. Satu jam lamanya berkeliling, baju tidak kunjung ditemukan. Kaki sudah pegal! Anak kami, Latif, juga sudah mulai merengek menunjukkan kebosanannya. Ia minta es krim.
Kami pun menuju sebuah restoran yang namanya sudah cukup terkenal. Tak berapa lama, makanan pesanan kami datang. Mas Bayu sibuk menyuapi Latif, memberi waktu kepada saya untuk makan dengan tenang. AGEN DOMINO QQ
Di samping kami ada serombongan anak muda sedang bercanda. Mereka memesan es krim beramai-ramai. Mereka juga membawa tas plastik berisi makanan dari luar. Padahal, sudah jelas-jelas ada larangan tidak boleh membawa makanan dari luar di tempat tersebut. Tapi, rupanya mereka tidak peduli. Suara rombongan ini riuh rendah di dalam restoran dan cukup mengganggu.
Setelah puas ber-haha-hihi, mereka meninggalkan meja dalam keadaan kotor. Sampah plastik makanan, gelas plastik bekas minuman, berserakan di mana-mana. Rasanya ‘gatal’ sekali untuk menyuruh mereka kembali dan membereskan dulu sampah-sampah itu sebelum berlalu (naluri ibu-ibu, ha…ha…ha…). Tapi, Mas Bayu mencegah.
“Biarkan saja!”
“Tapi, jorok sekali mereka!”
“Toh, nanti ada petugas yang membersihkannya.”
Jawaban Mas Bayu tidak memuaskan. Akhirnya saya bergerak dan mengambil sampah-sampah di meja itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah yang tersedia. Paling tidak meja itu kelihatan bersih dan selera makan saya tidak jadi hilang. (f)
0 komentar:
Posting Komentar