Inilah pasangan suami istri yang memiliki rumah makan sederhana di kompleks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang. BANDAR Q
Pasangan suami istri tersebut adalah Sarimin dan Suyatmi.
Pasangan suami istri inilah pemilik dari warung makan sederhana dengan sistem pembayaran yang unik.
Keberadaan warung makan 'Kantin Gas Metana' milik Sarimin dan Suyatmi ini nyatanya berhasil menginspirasi banyak orang.
Pasalnya warung makan pasutri asal Jatibarang, Semarang ini hanya menerima sampah plastik untuk membayar makanan.
Meski begitu ada ketentuan sampah plastik yang diterima hanya jenis plastik yang bisa didaur ulang.
Sampah plastik bisa ditukarkan di warung untuk membeli makan dan minum. Jenis sampah plastiknya yang bisa didaur ulang, seperti gelas plastik dan botol bekas air mineral, tas plastik bekas, dan yang lainnya," kata Sarimin saat ditemui Kompas.com, Minggu (3/11/2019) sore.
Sarimin lalu menjelaskan, biasanya sampah plastik yang dibawa dari pemulung akan ditimbang, kemudian ditukarkan dengan seporsi makanan di warung kecil miliknya.
Lalu, para pemulung bisa menikmati menu yang ada di warung milik Sarimin yang menyediakan berbagai ragam lauk-pauk, seperti lele, mangut, tahu, tempe, dan sambal.
Sarimin pun tak memasang harga mahal. Jadi tak heran banyak pemulung yang setiap hari datang ke warungnya. AGEN POKER ONLINE
"Pemulung datang bawa sampah plastik, lalu ditimbang minimal harus bawa 20 kilogram, biasanya seharga Rp 20.000. Kalau setiap kali mereka makan ada selisih antara hasil timbangan dan harga makanan, sisa itu otomatis jadi tabungan mereka," kata Sarimin.
Rupanya berjalannya waktu bukan hanya para pemulung saja yang menjadi pelanggannya.
Para sopir truk pengakut sampah pun ikut untuk menjual sampah plastik mereka dengan seporsi makanan.
Usut punya usut rupanya pasangan suami istri Sarimin dan Suyatmi ini bukanlah orang sembarangan.
Masih dikutip dari Kompas.com, Sarimin dan Suyatmi adalah satu dari delapan tokoh Indonesia yang berpengaruh.
Suami istri ini rupanya sempat diprofilkan dalam program bertajuk Indonesia's Game Changers dari stasiun televisi CNA.
Dari aksinya tersebut, Sarimin mengaku dirinya rata-rata mengumpulkan sampah plastik seberat 2 ton.
Setelah dua sampai tingga minggu sekali sampah plastik tersebut langsung dikirimkan ke pabrik di luar kota seperti, Rembang, Demak, Pati, Kudus, Solo, bahkan Surabaya.
Inisiatif dari Sarimin dan istri inilah yang membuat kantor berita CNA menobatkannya sebagai tokoh yang berpengaruh.
Hal lain yang tak kalah mengagumkan, pendapatan Sarimin dan istri rupanya berhasil untuk membiayai kedua anaknya untuk kuliah. AGEN DOMINO QQ
"Penghasilan yang didapat sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta setiap bulan. Buat bayar kuliah anak saya. Dua-duanya alhamdulillah bisa kuliah. Anak pertama sudah lulus dan kerja. Kalau yang kedua kuliah juga sambil bantu-bantu nyopir truk sampah," kata Sarimin yang memiliki dua putra ini.
Ada pada keadaan enak seperti ini bukan berati Sarimin dan istri langsung mendapatkannya.
Rupanya pasangan suami istri ini dulunya juga adalah seorang pemulung.
Hingga akhirnya keduanya dipertemukan dengan pihak Unit Pengelola Teknis (UPT) TPA Jatibarang.
"Sebelum buka warung ini, dulu tahun 2013 saya dan istri saya cuma pemulung. Sehari-harinya cari rongsok dan sampah buat sekolahin anak dan kebutuhan hidup. Modal juga enggak punya. Lalu ketemu Pak Agus dari UPT, akhirnya tercetus ide buka warung ini," kata Sarimin.





0 komentar:
Posting Komentar